6 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan

6 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan

Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan
yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini kami sarikan 16 kekeliruan umum yang
sering dialami umat Islam selama Ramadhan

Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut
bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak
orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa
lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja
yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap
kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita
arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.

1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan
Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah
dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan
istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini
berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik
kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah
mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah
yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat,
terjadi di tengah bulan Ramadhan.

Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas
dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu Ini penyakit yang
–diakui atau tidak– menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa
Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya
dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian
kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga
konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya
predikat “Muslim” dari dirinya.

3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka
serta sahur Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam
menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni
bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung
berubah. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala
keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka
tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore.

4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat Asal makna berpuasa bermakna menahan
diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya
dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga
membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum,
berhubungan suami-istri di siang hari.

Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang
haram, jelas lebih dilarang.

Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik kita menahan
pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, dsb.

“Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah,
namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala
puasanya tertolak).

5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga
melupakan shalat maghrib Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin
3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar
badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum
banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak
badan yang over (berlebihan).

6. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah) Sebenarnya
momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu
menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan
mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang.
Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain
Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat
diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas
pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial
(setengah-setengah), tidak utuh.

6. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan Barangkali ini
adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang
berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku
tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang
bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang
ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau
sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini
bermental loyo saat berpuasa Ramadhan.

Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa
yang berpahala ibadah adalah bila ;

Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita
setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb.

Tidur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan
saat malam hari dengan ibadah)

Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang ?bila tidak tidur-
dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah
(menggunjing), menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk
cuci mata dsb.

Pemahaman hadits diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan
bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi)
disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits
yang tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan
kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari
mulutnya, faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang
sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar
adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak
atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)

7. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan Benar bahwa shalat tarawih
adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan
bahwa berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan,
mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib.

8. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa
udzur/halangan ( terutama untuk laki-laki muslim ) Hukum shalat fardhu secara
berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada
yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits
Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum
Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas
kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

9. Bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah
Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikan Ini pun
contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat
dibanding poin-poin diatas. Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan,
itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan
berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya.

10. Semakin jarang membaca Al Qur’an dan maknanya 11. Semakin jarang bershadaqah
12. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan 13. Tidak memiliki
keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar

Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya
ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan,
karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka
sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan.

14. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar
& lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya
pengeluaran itu untuk shadaqah)

15. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak
untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan

16. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa

Mereka lebih sibuk apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah
puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak Orang-orang yang
biasanya mengalami poin-poin nomor 14, 15 dan 16 adalah orang-orang yang tertipu
oleh “fatamorgana Ramadhan”, betapa tidak ? Pada hari-hari puncak Ramadhan,
mereka malah menyibukkan diri mereka dan keluarganya dengan belanja ini-itu,
substansi puasa yang bermakna menahan diri, justru membongkar jati diri mereka
yang sebenarnya, pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang nampak begitu konsumtif,
memborong apa saja yang mereka mampu beli. Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan
rupiah mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka
lakukan. Semoga sentilan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak konsisten
dengan agamanya, karena di bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan
diri dan berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung
boros, dapat menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”.

Semoga Allah menganugerahi kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari
kesalahan-kesalahan yang kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, amin. Hanya
dengan keikhlasan, perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu
meng-up grade (naik kelas) puasa kita, wallaahu a’lam bis shawaab. (Ahmad Rizal,
Alumni STAIL, dan KMI Gontor-Ponorogo/Hidayatullah)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s