RESENSI FILM: Virgin 2

 

virgin2.PNG

Astaga!Layar – Seakan ingin mengulang kesuksesan “Virgin, Ketika Perawan Dipertanyakan” (2005), rumah produksi Starvision kembali menghadirkan sekuelnya yang bertajuk “Virgin 2, Bukan Film Porno”. Masih menguak kisah anak SMU, kali ini jalan cerita disentralkan pada empat orang remaja, yang masing-masing mempunyai pengalaman kelam.

Sekedar tahu saja, di film terdahulu alur cerita masih menunjukkan aktifitas belajar mengajar, tapi di sekuelnya tidak ada aktifitas tersebut. Film dibuka dengan narasi seorang remaja bernama Nadya (Joana Alexandra). Hidupnya tak sempurna, bersama dengan sobat baiknya, Mitha (Smitha Anjani), ia menjalani hidup dengan menjadi seorang DJ.

Meski bekerja di klub malam, Nadya tak pernah tersentuh dengan barang haram seperti Narkoba. Beda halnya dengan Mitha, yang diam-diam malah semakin terpelosok ke dalam buaian narkoba.

Di lain cerita, ada Tina (Christina Santika) yang diusir sang ibu karena dituduh berselingkuh. Padahal, pacar sang ibulah yang berusaha untuk mendekatinya. Tina pun meninggalkan rumah. Sayang nasib berkata lain, ia malah diperkosa dan dipaksa melacur.

Tak ingin terus tenggelam, Tina berhasil kabur. Ia pun bertemu dengan Nadya dan keduanya saling mengungkapkan masa lalu. Jalinan persahabatan Nadya dan Tina diuji dengan Mitha yang semakin terpelosok dan berhutang banyak pada bandar narkoba. Karena tak bisa membayar, nyawa Mitha terancam, Nadya dan Tina pun memutar otak untuk bisa mendapatkan uang.

Bagaimana nasib Nadya dan Tina? Silakan Anda cari tahu jawabnya. Yang pasti, ada beberapa penggalan cerita yang mungkin tak terungkap dengan baik. Misalnya saja, tokoh Kenny (Neyna Lisa). Diceritakan kalau kehidupan Kenny lebih baik dari Tina, Nadya dan Mitha. Namun begitu, ia pernah gagal bunuh diri dan mengakibatkan pita suaranya rusak. Ketidakharmonisan keluarga membuatnya frustasi.

Sayangnya, kisah tragis Kenny tidak digali lebih dalam sehingga agak sedikit mengambang. Belum lagi, ciri khas sang sutradara Nayato Fio Naula yang kerap mengambil gambar dengan sekelebatan. Meski dibuat agar terkesan menjadi ‘momen’ tapi tetap saja tak enak dilihat.

Dikatakan ‘This was not their choice, because they had no choice’. Benarkah begitu? Yang pasti hidup adalah sebuah pilihan, silakan Anda pilih yang terbaik menurut Anda…

 

1 Comment

  1. kak mita…..quw minta no hpny dong,,,plisss??????quw ngevans buanget ma kakak


Comments RSS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s