RESENSI FILM : “QUEEN BEE”

Judul Film : “QUEEN BEE”
Jenis Film:
– Drama/Remaja

Pemain:
– Tika Putri, Oka Antara, Reza Rahadian, Mathias Muchus, Jajang C Noer

Sutradara:
– Fajar Nugros

Penulis:
– Ginatri S Noer

Produser:
– Bernhard Subiakto, Salman Aristo & Rendy Prasetio

Produksi:
– Million Pictures 2009

Durasi:
– 107

Sinopsis

Queenita Siregar, gadis 17 tahun yang smart, stylish dan independent. Hidupnya berjalan biasa seperti remaja kebanyakan, hingga ketika hidupnya berubah menjadi lebih rumit, saat ayahnya terpilih sebagai salah satu calon presiden

Keberadaan aparat pengamanan sesuai protokoler pengawalan keluarga calon presiden semakin membuat hidup Queen terkekang. Ditambah lagi dengan ketidaksukaan Queen pada salah satu aparat baru yang mempersulit hubungan Queen dengan pemuda yang disukainya

Padahal keinginan Queen sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin Ayahnya memperlakukannya sebagai seorang gadis yang sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap. Sementara Ayahnya masih menganggap Queen seorang gadis kecil yang belum bisa cukup dipercaya, sehingga ia merasa Queen cukup diberikan fasilitas saja dulu

Ikuti perjalanan Queen Bee untuk mendapatkan definisi dari pentingnya kepercayaan baru. Karena hanya kepercayaan yang bisa membuat hidup menjadi lebih baik


Ulasan

Film yang berjudul ‘Queen Bee’ merupakan sebuah film bergenre drama yang diperuntukan bagi kalangan remaja. Film yang diproduksi oleh Million Pictures ini berdurasi 107 menit.

Dalam film ‘Queen Bee’ sutradara mencoba mengisahkan seorang remaja yang bernama Queenita Siregar (Tika Putri). Kehidupannya mulai berubah ketika sang ayah Rahmat Siregar (Mathias Muchus) menjadi calon presiden. Maka tak ayal lagi, kehidupan gadis 17 tahun itu pun mulai kerenggut kebebasannya, dengan adanya para pengawal yang mengawasi setiap langkahnya.

Secara keseluruhan film ini dapat dikatakan berhasil dalam mencapai tujuan. Pasalnya film yang mengangkat genre drama ini telah mampu memberikan sebuah gambaran baru bagaimana perasaan menjadi seseorang yang tadinya bebas berpergian, kemudian berubah dengan batasan-batasan yang diterapkan secara sepihak.

Sementara itu, secara cerita pada awalnya film ini mampu memberikan sebuah opening yang baik. Namun, setelah berjalan 30 menit film ini menampilkan adegan-adegan yang membosankan. Apalagi terdapat adegan yang menggurui, dan memperlambat irama film tersebut. Hal itu dapat dilihat dimana Queenita memberikan sebuah argument tentang remaja yang kreatif, dengan latar belakang sebuah studio dengan nuansa gelap.

Tak hanya itu saja beberapa adegan yang tidak pas untuk ditonton. Ada juga adegan yang sangat memaksakan. Walau pun hanya berdurasi 1-2 menit tapi hal itu sangat mengganjal cerita, dimana Queenita beserta kawan-kawannya harus menyampaikan iklan terselubung untuk produk pemeliharaan rambut.

Bahkan, irama film ini menjadi semakin menjenuhkan ketika harus menonton sebuah adegan kampaye. Dalam film itu ditampilkan adegan kampanye diatas panggung, yang menggembar-gemborkan tentang janji-janji politik. Pasalnya adegan seperti ini selalu ada dalam film-film yang mengangkat tema politik.

1 Comment

  1. Ya, ya, ya. Asik. Seharusnya beginilah terjadi sejak dulu, kawula muda membedah film secara terbuka untuk kepentingan banyak pihak. Termasuk para pembuat film.
    Asik, asik, asik menyimak bahasan anak-anak muda ini. Ya, cerita memang menjadi tulang punggung film. Cerita dikelola melalui skenario. Itu semua bentuknya teks. Tertulis. Jika sudah menjadi film, alat berkomunikasinya sudah berubah menjadi gambar bergerak-bersuara.
    Di situlah kita membicarakan film yang komponennya buaaanyak. Salut, salut!


Comments RSS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s