PACARAN=GAUL ?????

Berbicara tentang dunia anak muda kita tidak bisa terlepas dari barbagai macam pernak-perniknya, ada yang mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang positif, dan tidak sedikit diantara mereka mengisinya dengan hal-hal yang terlarang, seperti narkoba dan dunia malam, karena salah pergaulan dan kurang mendapatkan perhatian dari keluarga, serta yang lebih penting adalah minimnya siraman rohani kepada mereka.
Satu hal yang perlu mendapat perhatian lebih bagi kita dalam pergaulan remaja dan masyarakat secara umum adalah tidak adanya pemisah dan jarak antara lelaki dan perumpuan. Hal ini bisa terlihat pada seluruh kehidupan masyarakat, pergaulan umum, lingkungan kerja, sekolah, perkuliahan dll. Padahal manusia mempunyai satu watak bawaan, seperti yang difirman Alloh dalam surat  Al-Imran ayat 14:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.
Hal ini mendorong kalangan kita untuk berinteraksi baik dengan dengan sesama jenis atau lawan jenis, dan kecenderungan untuk beraktifitas dengan lawan jenis lebih dominan dan lebih diminati masyakat, seperti ungkapan mereka “wah kalau gak ada ceweknya gak seruh ini, sepi dong”.
Upaya untuk menjalin kedekatan dengan lawan jenis semakin besar kesempatannya, sehingga pacaran merupakan hal paling diharapkan. Timbul ungkapan atau bahkan kenyakinan (jika tidak terlalu ekstrim untuk diungkapkannya) bahwa seseorang yang tidak punya pacar akan sulit jodohnya, kurang pergaulan (kuper), tidak menikmati masa mudanya. Pada akhirnya pacaran tidak bisa terpisahkan dari kehidupan anak muda. Kondisi ini semakin mendara daging pada diri masyarakat kita adalah dukungan orang tua, bahkan mereka mendorong, memotifasi, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anaknya untuk mencara pacar/pasangan hidup (menurut bahasa mereka).
Kita semua mengatahui bahwa pacaran merupakan prodak impor dari barat dan non muslim dalam tubuh umat Islam, dengan tujuan menjauhkan mereka dari prinsin-prinsip Islam dalam kehidupan bermasyarakat, serta merusak akhlak umat Islam dengan menjerumuskan mereka ke dalam lembah kemaksiatan bahkan perzinaan melalui sarana yang paling mujarap. Kita sering mendengar di media cetak maupun elektronik bayi-bayi yang dibuang, tempat-tempat aborsi yang banyak dikunjungi muda-mudi, tentunya semua ini menjadikan keringat dingin kita semakin banyak menetas. Bagaimana pandangan Islam atas masalah ini.
Alloh berfirman:

“Dan Barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain[285], karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai teman-teman dekatnya”. (Q.S An-Nisa’: 25).

Ayat memerintahkan kepada kita agar kita mengawini perempuan-perempuan yang sholihah mampu menjaga kehormatannya dan dirinya dari hal-hal yang dapat menghantarkan kepada perbuatan zina, dan melarang kita untuk mengawini dua tipe perempuan, pertama; perempuan-perempuan yang banyak melakukan perbuatan zina, kedua: perempuan-perempuan yang mempunyai lawan dekat dari lawan jenisnya yang bukan mahramnya.
Kata “Muttakhidzati akhdaan (dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai teman-teman dekatnya)” dalam ayat tersebut ditafsirkan oleh beberapa ahli tafsir dengan “perempuan-perempuan yang mempunyai teman dekat (dari lawan jenisnya yang bukan mahromnya)”. Seorang ahli tafsir bernama Dhohhak menafsirkan firman Alloh “dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai teman-teman dekatnya” adalah perempuan yang mempunyai teman yang dekat, selalu menempel pada dirinya dan dia mengakuinya (pacar), Alloh telah melarang hal itu, yaitu mengawini perempuan tersebut, selama dia melakukannya.
Al-Imam Ibnu Jarir juga menafsirkan kata tersebut dengan ungkapannya: “perempuan-perempuan yang membatasi dirinya dengan teman-teman dekatnya untuk melakukan kemasiatan secara sembunyi-sembinyi tidak terang-terangan”.
Senada dengan ayat diatas firman Alloh dalam surat Al-Maidah ayat 5:
“Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan juga bukan lelaki yang menjadikan wanita-wanita lain sebagai teman-teman dekatnya. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi”.
Larangan pada ayat 25 surat An-Nisa’ diatas diarahkan kepada perempuan-perempuan yang berpacaran, sedang pada ayat ini ditujukan kepada laki-laki. Al-Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini  dengan mengatakan: “Sebagaimana Alloh mensyaratkan kehormatan bagi perempuan begitu juga mensyaratkan bagi lelaki, yaitu seorang lelaki yang terhormat, tidak berbuat zina, dan juga tidak mempunyai kekasih-kekasih yang dimana mereka tidak bergaul kecuali dengannya”.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani, Rasululloh bersabda:
“Jangan sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan (yang bukan mahromnya) kecuali syaithon menjadi yang ketiga”.
Senada dengan hadits diatas hadits yang diriwayatkan Tirmidzi dan dishohihkan Syaikh Al-Albani Rasululloh bersabda:
“Jangan sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan (yang bukan mahromnya) kecuali yang ketiga adalah syithon”.
Al-Imam Al-Mubaarokfuri menjelaskan makna sabda Rasululloh “kecuali yang ketiga adalah syithon” maksudnya adalah syaithon akan bersama keduanya dengan membakar hawa nafsu keduanya sampai syaithon itu mendapati keduanya melakukan perzinaan.
Abdulloh Ibnu Abbas mendengar Rasululloh bersabda:

“Jangan sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan (yang bukan mahromnya) dan juga janganlah bepergian dengannya kecuali perempuan itu membawa mahromnya” (Muttafaq ‘Alaihi).
Al-Imam Nawawi menjelaskan hadits diatas dengan mengatakan: “Janganlah seorang lelaki duduk dengan perempuan kecuali dengan mahrom perempuan tersebut. Jika seorang lelaki berduaan dengan perempuan yang bukan mahromnya tanpa adanya orang ketiga (yaitu mahromnya), maka ini diharamkan sesuai kesepakatan para ulama’”.

Berdasarkan dalil-dalil diatas jelaslah dihadapan kita perihal bentuk pergaulan masyarakat yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka, yaitu pacaran bahwa hal itu diharamkan dalam syariat Islam, dan itu merupakan kehidupan barat yang dipenuhi dengan barbagai macam kemungkaran dan kemaksiatan, sama sekali bukan bagian dari Islam, sehingga kewajiban kita adalah menjaga diri dan kehormatan dari berbagai hal yang dapat mengarahkan kita ke dalam lembah kemaksiatan dan perzinaan, firman Alloh:

“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi”. (Q.S Al-’An’am: 151).

Dan juga firman Alloh:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S: Al-Israa’: 32).

Dampak negatif yang dihasilkan dari pacaran sangatlah banyak, baik kembali kepada diri pelakunya, keluarganya dan masyarakat pada umumnya. Syaik Sholeh Al-Munajjid menjelaskan bahaya pacaran dengan mengatakan: “Pacaran tidaklah merusak keluaganya saja, tetapi ia juga merusak lingkungannya, dan para pelakunya terancam dengan siksaan Alloh dan murka-Nya. Pacaran adalah penyakit yang akan merusak hati pelakunya, mengarahkannya kepada perbuatan keji dan mungkar. Dan syaithon selalu mengencangkan talinya dan melicinkan jalan-jalannya sampai kekejian itu terjadi, sehingga keduanya mendapatkan apa yang diinginkan dari lawannya. Dengan demikian pacaran mempunyai dampak negatif yang banyak sekali, diantaranya adalah menudai kehormatan orang lain, mengkhianati amanat, berduaan, saling bersentuhan, ciuman, ucapan yang kotor, kemudian kekejian besar yang merupakan akhir dari perjalanan tersebut, yaitu perzinaan”.
Mudah-mudah kita semua dilingdungi oleh Alloh dari perkara-perkara yang terlarang dan sarana-sarana yang dapat menghantarkan kepadanya, dan kita berdoa kepada-Nya agar kita ditetapkan dalam meniti jalan ketaan dan ketakwaan kepada-Nya.

Jakarta, 20 Januari 2009
Nizar Saad Jabal

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s